Loading Malino

Jejak Waktu di Kota Bunga

Malino bukan sekadar destinasi liburan pegunungan yang sejuk. Di balik kabut tipis dan pesona alamnya, wilayah ini menyimpan narasi sejarah yang panjang dan krusial, mulai dari peradaban masyarakat lokal, masa keemasan sebagai tempat tetirah kolonial, hingga perannya sebagai panggung diplomasi penentu nasib bangsa pasca-kemerdekaan.

Menelusuri Jejak Sejarah

Berada di ketinggian sekitar 1.050 meter di atas permukaan laut, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, menyimpan sebuah permata sejuk yang dikenal sebagai Malino. Populer dengan julukan Kota Bunga, Malino bukan sekadar destinasi wisata berhawa dingin, melainkan sebuah tempat yang menyimpan narasi sejarah yang panjang.

Malino Tahun 1927

1. Asal-Usul Nama & Era Kerajaan

Jauh sebelum dikenal luas, wilayah Malino merupakan bagian dari Kerajaan Gowa. Nama "Malino" memiliki kisah unik dari bahasa lokal.

Konon, masyarakat setempat menyebut daerah ini "Malino-lino" yang berarti tenang atau sunyi. Ada pula yang menyebut berasal dari tokoh bernama Tumailalang Lino yang dihormati karena kebijaksanaannya.

2. Era Kolonial Hindia Belanda

Pada 1927, di bawah Gubernur Jenderal Caron, Belanda melirik Malino karena hawanya yang sejuk—kontras dengan pesisir yang panas. Kawasan ini dijadikan sanatorium elite Eropa.

Asal "Kota Bunga": Belanda membawa berbagai bunga Eropa. Karena tanah subur, bunga tumbuh indah. Tradisi inilah yang mewariskan julukan Kota Bunga.

3. Konferensi Malino (1946)

Malino dipilih oleh Hubertus Johannes van Mook sebagai lokasi pertemuan politik penting pada 16–22 Juli 1946 yang dihadiri 39 delegasi Indonesia timur.

Meskipun dirancang oleh Belanda untuk membentuk negara federal (NIT), konferensi ini memicu kesadaran politik besar untuk mempertahankan kesatuan RI.

4. Warisan Pariwisata

Kini, warisan masa lalu berpadu dengan alam. Hutan Pinus sejak zaman Belanda dan kebun teh menjadi daya tarik utama.

Event rutin "Beautiful Malino" merayakan kekayaan flora dan budaya, menegaskan kembali identitas kota bunga ini di hati masyarakat.

"Malino bukan sekadar tempat pelarian dari penatnya kota, ia adalah ruang waktu di mana ketenangan alam, keindahan bunga, dan jejak sejarah bersatu dalam harmoni."